![]() |
Youtube menggunakan teknologi pembelajaran mesin yang lebih canggih untuk menemukan konten yang menyalahi kebijakan mereka. (Unsplash: Steinar Engeland)
|
Catherine Archer, seorang dosen di Murdoch University yang memiliki spesialisasi dalam media sosial, mengatakan itu hanyalah bagian kecil dari permasalahannya.
"Saya kira perusahaan itu mulai mengakui masalahnya, tetapi inti masalah dari YouTube adalah siapapun mampu mengunggah video tanpa menjadi seorang profesional," katanya, seperti dilaporkan ABC News, dan dilansir dari iNews.id. Selasa (18/12/2018).
"Platform media sosial ini, semakin banyak, harus menyadari betapa sulitnya mengontrol konten di saluran mereka."
YouTube menyatakan sebagian besar video yang dihapus berisi konten dewasa atau spam yang tidak pantas. Namun perusahaan ini tak menawarkan banyak informasi tentang cara mengelola sejumlah besar video kebencian atau konspirasi tersebut.
Juru bicara perusahaan mengatakan, algoritma baru akan berfungsi untuk menghapus konten yang tidak pantas tersebut.
"Kami selalu menggunakan gabungan para pengulas dan teknologi manusia untuk menangani konten yang melanggar pada platform kami, dan pada 2017 kami mulai menerapkan teknologi pembelajaran mesin yang lebih canggih untuk menandai konten untuk ditinjau oleh tim kami," katanya.
"Kombinasi teknologi deteksi pintar dan pengulas manusia yang sangat terlatih ini memungkinkan kami untuk secara konsisten mengaplikasikan kebijakan kami dengan kecepatan yang meningkat."
Namun, penulis lepas Stilgherrian mengatakan, skala YouTube tak memungkinkan perusahaan ini untuk mengamati setiap video yang penuh kebencian atau konten yang menyinggung.
Menurutnya, walau perusahaan mempertahankan teknologi untuk menemukan konten tersebut dengan lebih canggih, begitu pula teknik mereka yang ingin menyebarkan kebencian atau propaganda politik; namun akan tetap sulit menemukan video tersebut.
"Upaya ini menjadi lebih sulit karena 'pihak yang jahat' menjadi semakin baik dalam menyamarkannya," katanya.
"Jika kita melihat konten politik, Youtube digunakan untuk menjadi wadah video propaganda yang sangat jelas. ISIS biasanya mengunggah video pemenggalannya, dan mereka cukup mudah dikenali."